Postingan

Aku pergi bukan karena aku kalah.

Seperti petir di siang hari tanpa ada awan hitam, semuanya menjadi mencekam, detak jantungku seakan berhenti sejenak, sebuah pesanmu tersurat di layar handponeku dengan semangat ku membuka pesanmu yang berisikan “ aku nggak tahu kenapa aku menjadi kaku seperti ini, mungkin aku lama kali ya nggak latihan lagi seperti dulu ”   sontak handphone ku jatuh dilantai dan muncul pertanyaan kalau kamunya sibuk kenapa mesti kamu mengiyakan ajakanku untuk bertemu denganmu, harusnya kamu tolak saja daripada kamu hanya datang dan diam mungkin aku akan memaklumi, selama sebulan ku memikirkan semua itu, memikirkan perubahan yang terjadi padamu, memikirkan kata hey yang hamper setiap malam tampil di layar handphoneku, memikirkan ketika kita bercanda bareng dan memikirkan arti persaudaraan kita. Tepat satu bulan telah berlalu, untuk mengucapkan kata satu bulan setelah kejadian itu banyak hal yang terjadi kepadaku,akunya yang   biasa bersemangat sekarang aku tak berdaya, aku tak bisa ...

ceritaku sore ini

Selamat sore senja, masih ingat dengan aku, yaa aku yang dulu sering bersamamu disaat pukul 17:25 WIB, memandangi dirimu yang indah tanpa berkedip dan air mataku pun jatuh, sekarang aku datang lagi duduk dan memandangimu, engkau pasti tahu kenapa aku kesini, please biarkan aku menikmati dirimu sore ini, aku terlalu rapuh untuk sendiri, tetap disana sampai waktu memanggilmu untuk pulang. Sudah lama kita tidak berbincang-bincang mengenai dia, dia dan dia. Sore ini akan ku ceritakan apa yang kualami, tapi please dengarkan aku, “aku sekarang rapu, aku sekarang sendiri mereka menjauh, mereka ada disaat mereka membutuhkan kebahagiaan, dimana letak kesalahanku, aku Cuma mereka ada, cukup itu dan berjanji tidak pergi. Tapi apa sekarang mereka berbalik arah, mungkin ada yang lebih baik dari aku, dan itu dia bukan aku lagi. Apa yang harus ku perbuat senja? Menungguna kembali dan setelah itu mereka pergi lagi? Iyaa begitu seterusnya? Pukul 17:50 WIB senja pun meninggalkanku, aku pun te...

Aku

Waktu menunjukkan pukul 17:18 WITA, aku mendengar suara gemuruh dan ku langkahkan kakiku keluar untuk melihat apakah itu?? Perlahan ku buka pintu dentik air menyapa wajahku dan itu hujan, dia datang sore ini namun hujan kali ini tak seperti hujan kemarin karena kegundahan di hati ini yang membuatnya menjadi seperti ini, yaaa kamu dan kamu lah penyebabnya kenapa aku harus terjebak dalam masalah seperti ini, ketakutan yang berlebihan dan kekecewaan yang mendalam membuat ku seperti ini, puluhan orang yang datang namun ribuan orang pula yang pergi, lantas siapa yang akan datang lagi tuhan aku tak membutuhkan orang baru, aku inginkan mereka namun mereka telah meninggalkan bekas dihati ini, aku yang dulu bukanlah yang sekarang tak ku pungkiri pujian yang datang kepadaku saat itu namun yang ku sesali kenapa meski sifat yang seperti ini menggorogotiku, mungkin aku sudah terlalu rapuh sampai akhirnya karakter baru ini menghampiriku. Dibalik tawaku ku sembunyikan tangisku di balik candaku tersel...

Menjauh

Malam tlah tiba, ku memutuskan untuk keluar menghirup angin malam, memandangi langit yang tak berbintang tak lama kemudian detik air membasahi pipiku, yaaa hujan sebantar lagi turun tak lama suara gemuru datang dan itu hujan, ku rogoh kantung ambil mp3,headset dan ku putar lagu "seperti yang kau minta", lagu ini menemaniku dikala hujan itu, aku memutuskan untuk mengaduh ke sahabat sejatiku (hujan) aku bukan dewi, bukan malaikat, bukan manusia sempurna, aku iniu manusia biasa yang bisa marah, menangis, kecewa, membenci bahkan mengamuk, aku bisa meninggalkan orang, bisa jenuh dengan orang lain tapi mengapa mereka memujiku seperti manusia yang super baik, bukankah kita hidup mencari yang lebih baik? Iyakan? Lantas mengapa mereka berlomba? Aku sarankan untuk keluar dan tutup kembali pintu itu, ketuklah pintu yang sebelah saja itu lebih baik, bukannya aku tak mensyukuri tapi aku sudah rapuh ku mohon jangan tambah kerapuhan yang baru buat aku, Salahkah kalau aku memprioritaskan ora...

Berbeda tapi sama

Senin 26 januari, di pagi itu hujan menyapaku, hujan begitu lebat dan aku harus ke tempat itu, yaa aku berusaha nego dengan hujan namun tidak ada respon 15 menit ku menunggu aku putuskan untuk menerobos hujan dengan memakai payung merah maron, genangan air mulai terlihat berusaha menghindarinya tapi alhasil alas kakiku basah, tiupan angin membuat goyah payungku, melewati danau hijau suatu pemandangan yang indah dentik air terlukiskan di danau hijau itu ku putuskan untuk berhenti sejenak memandangi lukisan indah itu.di tengah keasyikanku itu tiba tiba ada sesosok manusia menepok bahu ku "hay lagi ngapain?'' sontak aku kaget dan membalikkan badan melihat orang itu, setelah ku melihatnya aku pun menjawab pertanyaannya "hey juga, iya lagi menikmati indahnya hujan'' dia kembali berbicara "iyaa hujan begitu penuh misteri, apa yang kamu suka dari hujan?, dalam benakku wah kayaknya ini orang suka juga dengan hujan, "aku suka hujan karena dia tak pernah takut...

lantas siapa yang pantas?

Merindukan pantai, pasir putih dan nyayian ombak bersama gerimis, aku ingin bertemu mereka aku ingin mengadu, berteriak, marah dan menangis. Aku sudah terlalu rapuh untuk sendiri menjalani problema ini aku tahu yang terbaik akan datang namun di saat ku menemukan dan memilih kamu kenapa engkau melepaskan genggamanmu dan mengatakan “kalaupun ada yang lebih baik aku rela pergi” shiittttt yaa aku marah, kecewa dan mengamuk. Aku tak butuh orang lain aku butuh sosok kamu aku bahagia sebuah pengakuan telah terkuak, pengakuan yang sampai detik ini masih di luar nalarku. Aku ini siapa? Aku hanya sesosok manusia yang tak sempurna namun kamu berpikir bahwa kamu lah yang tidak sempurna. Dan bukan hanya kamu, dia pun mengatakan hal yand sama kepadaku yaitu ketidakpantasan. Lantas siapa yang akan pantas dengan aku, siapa? Tolong beritahu aku, aku butuh orang yang lantang mengatakan aku pantas bersama kamu Cici duduk di sebuah kedai kopi, bercerita bersama dan bercanda bersama aku butuh orang...

Pelangi.

Merindukan pelangi   yang tlah lama menghilang, dimana pelagi itu? Bagaimana kabar warna-warna itu? Masihkah kamu merindukan aku yang disini haus akan warnamu,   pelangi yang dulu selalu memberikanku kebahagiaan, kesenangan, dan canda tawa sekarang menyisakan kesedihan dan kenangan, wahai pelangiku kembali lah aku merindukanmu aku tak mampu menggapai dunia tanpa dirimu aku membutuhkan kasih sayang dan semangatmu, ku mohon kembalilah. Hujan telah datang beberapa kali ini namun kamu tak kunjung menampakkan dirimu, ku bertanya kepada hujan, namun hujan pun hanya memberikanku nasehat “segala sesuatu yang pergi karena alasan pasti dia akan kembali walaupun tak seperti dulu lagi, karena perubahan itu ada kawan, jadi bersabarlah aku datang untuk menghiburmu agar kamu tak meneteskan air mata di pipi mu dan supaya tak ada orang lain yang tahu bahwa kamu rapuh karena beberapa warna sehingga menjadi sebuah pelangi, tersenyumlah kawanku   aku sahabat sejatimu akan selalu hadir d...