lantas siapa yang pantas?
Merindukan
pantai, pasir putih dan nyayian ombak bersama gerimis, aku ingin bertemu mereka
aku ingin mengadu, berteriak, marah dan menangis. Aku sudah terlalu rapuh untuk
sendiri menjalani problema ini aku tahu yang terbaik akan datang namun di saat
ku menemukan dan memilih kamu kenapa engkau melepaskan genggamanmu dan
mengatakan “kalaupun ada yang lebih baik
aku rela pergi” shiittttt yaa
aku marah, kecewa dan mengamuk. Aku tak butuh orang lain aku butuh sosok kamu
aku bahagia sebuah pengakuan telah terkuak, pengakuan yang sampai detik ini
masih di luar nalarku. Aku ini siapa? Aku hanya sesosok manusia yang tak
sempurna namun kamu berpikir bahwa kamu lah yang tidak sempurna. Dan bukan
hanya kamu, dia pun mengatakan hal yand sama kepadaku yaitu ketidakpantasan.
Lantas
siapa yang akan pantas dengan aku, siapa? Tolong beritahu aku, aku butuh orang
yang lantang mengatakan aku pantas bersama kamu Cici duduk di sebuah kedai
kopi, bercerita bersama dan bercanda bersama aku butuh orang seperti itu. Tapi apa
yang ku harapkan malah sebaliknya kamu dan dia sama saja, seberapa sempurna nya
aku dimata kamu dan dia sampai kata itu keluar itu dengan lantang, aku bukan
orang sempurna aku bisa marah, kecewa, mengamuk dan membenci aku seperti mereka
yaa mereka yang ada didekatmu sekarang. Di saat ini aku tak tahu kemana harus
mengadu yaa aku sudah mengadu kepada sang pencipta namun aku bingung kemana
lagi aku mengadu sekarang, aku menitih air mata ketika ku mengingat argument
kamu begitupun dia. Kenyataannya sekarang aku sendiri aku tak tahu apa yang ku
harus ku lakukan. Berdiam diri dan semangat memudar mungkin itu jawaban
keadaanku sekarang ini
Haruskah
aku pergi dari kamu dan dia, haruska aku menjauh sampai kamu dan dia sadar
bahwa ketidakpantasan itulah yang membuat aku seperti ini, haruskah aku pergi
iya??? Jawab?? Mungkin harus ya sampai akhirnya ada satu orang yang datang
kepadaku bahwa aku ingin duduk di sampingmu ci’ aku ingin minum kopi dan
bercerita tentang hidup bersamamu, aku tunggu orang itu entah kamu atau dia
atau bahkan orang baru yang ku temui di jalan yang berani datang dan menawariku
duduk di kedai kopi sambil meminum kopi dan bercerita.
Tidak
ada yang salah dari argument kamu dan dia, namun apakah kamu dan dia tahu
dampak dari hal ini ke aku? Aku drop, kaget, kecewa dan marah. Awalnya aku
senang karena aku menjadi orang yang terbaik di hidupmu namun di sela
pembicaraan kamu dan dia mengatakan hal yang sama “aku rela jika ada yang terbaik untuk kamu” , pengen marah tidak
mungkin karena itu hakmu namun maaf air mataku tak dapat tertahankan untuk
menetes, aku hanya bisa diam dan menangis. Kamu dan dia membuatku tersenyum
dengan argument seperti itu namun diakhir pembicaraan kamu dan dia
melemparkanku ke jurang ini tidak adil aku butuh orang yang menganggap dirinya
bisa dan pantas untuk duduk bersama aku tanpa ada ketakutan dan ketidak
pantasan karena aku juga bukan manusia sempurna untuk kamu dan dia aku juga
manusia yang banyak kekurangan, aku berharap dulu aku bisa menjadi sempurna
ketika bersama kamu atu dia namun dengan problema ini aku sadar aku memang di
takdirkan untuk sendiri. Maaf kalau aku membisu saat ini, maaf kalau aku harus
seperti ini, aku sudah terlalu rapuh dan kamu begitupun dia menambah kerapuhan
ku lagi, aku capek, aku ingin bahagia aku ingin tertawa tapi kamu dan dia belum
menyadari bahwa “KALIAN” adalah semangatku untuk melawan kerapuhan yang semakin
hari semakin menggorogoti hidupku, tapi
sekarang aku persilahkan masuk kerapuhan itu dengan lantang aku izinkan
kerapuhan itu masuk, dan aku tawarkan untuk tetap tinggal ditubuhku sampai
kerapuhan itu sendirilah yang pergi meninggalkanku karena satu alasan yaitu “orang yang pantas dan berani sudah tiba di
hadapanmu ci’, aku pergi dan aku akan datang lagi disaat orang itu akan pergi
lagi”
Aku
ingin sendiri tuhan , bairkan aku sendiri, tolong jangan dekatkan sahabat di
hidupku, sudah banyak yang pergi dan meninggalkanku sendiri dan sekarang
mungkin kamu dan dia akan pergi seperti mereka, aku akan mengenangmu aku akan
menceritakan kamu dan dia ketika aku bertemu dengan tuhan, terlalu banyak yang
pergi namun aku yakin diantara mereka, kamu dan dia akan kembali tuhan akan
menunjukkan jalan untuk kembali kepadaku meskipun disampingmu perubahan itu ada
namun aku tak peduli setidaknya mereka, kamu dan dia sudah pernah pulang
selebihnya biar takdir yang menentukan siapa yang akan bertahan sampai tiba
saatnya aku memakai kain kafan. Dan asal kamu dan dia tahu disaat ku menulis
ini aku meneteskan air mata.
Komentar
Posting Komentar