Kepada Senja, Aku Ingin Pena yang Baru.
Apa kabar Senja, sudah lama aku tak menyapamu,
sudah lama kita tidak bercengkrama, sudah lama kita tak duduk bersama. Iya sudah
lama. Kadang ada rasa ingin kembali ke masa itu, kembali bersua dengan kenangan.
Sesekali aku berkunjung ke pantai agar rindu
ini berkurang, menikmati angin yang berhembus sembari memejamkan mata membayangkan
sosokmu hadir dalam bayanganku, ya
bayangan yang setiap malam aku cari dilayar ponselku berharap ada pesan darimu
seperti malam sebelumnya, bercerita dan berbagi kisah sampai kita lupa waktu.
Kadang aku berpikir beruntungnya dia karena bisa
dekat denganmu, bisa bercanda denganmu dan bisa
memelukmu. Iri ?? yaa sepertinya aku mulai memiliki karakter itu. Iri melihatnya
bisa akrab denganmu. Namun aku harus apa terkadang aku juga berpikir dengan
sikap iri ini apakah membawa keuntungan untuk hubungan kita kedepannya? Sepertinya
tidak ada, karena setiap manusia akan ada difase berubah dan menjauh bahkan
yang dulunya sama tidak selamanya akan bersama.
Memehartikanmu dari jauh adalah cara terbaik
untuk memelukmu dan membunuh rindu ini, meskipun tetap saja ada jarak diantara
kita, jarak yang entah kapan akan hilang. Ya walaupun kamu memperhatikan sosok
orang lain tapi aku yakin sosok yang kamu perhatikan adalah sosok yang mampu membuatmu tertawa lepas kembali.
Filosofi pasir kembali ku baca “semakin erat kamu menggenggam pasir,
semakin sedikit pula pasir yang akan kamu dapati ditanganmu”, memang benar
filosofi ini semakin aku bersikeras untuk tidak melepasmu maka semakin tersiksa
diriku menahan rindu ini. Merindukan akan
sosokmu yang dulu bukan sosok yang dingin seperti sekarang ini.
Aku akan melawan rindu ini jika rindu ini
kembali mengetuk sebentar malam. Memang bisa? Awalnya akan perih dan semakin
perih. Tapi seiring berjalannya waktu semua ini akan baik-baik saja
Pelukanmu malam itu adalah pelukan terakhir dan
terindah makanya aku membiarkanmu memelukku dengan erat. Sembari kamu memeluk
aku, aku hanya mampu menjadi patung dalam
dekapanmu. Kamu terus mengajakku bercengkrama tapi berat lidah ini untuk
menjawab semua pertanyaanmu. Aku memiliki alasan, kebahagiaan yang terjadi
malam ini, besok akan berubah lagi menjadi hening dan kaku.
Kepada senja, aku adalah sosok yang selalu
berharap dia akan kembali seperti dulu. Namun jika takdir tak mengizinkan lagi
dengan ikhlas aku mengatakan aku ingin dia bahagia bersama dengan orang2 yang
dia inginkan. Kepada senja, tak usah mengkhawatirkan aku, tuhan akan memberikan
aku kekuatan untuk melewati ini, biarkan aku menulis takdir aku kembali dengan
pena yang baru. Karena aku bukanlah sosok yang egois, dia layak didekati dan
disayang oleh orang banyak karena dia memang orang terbaik diantara beribu
orang baik.
“Kepada senja”
Bgitu luarbiasanya org yg bsa d rindukan sma kkak WZ
BalasHapus