Janji sepasang merpati yang tlah memudar
Hiruk piruk udara pagi
ini menambah kekhusyukan rasa syukur akan hidup, embun yang semakin menari
dimataku semakin menambah indahnya pagi ini. Pagi adalah awal dari segalanya,
ku lihat buku catatanku dan ternyata benar hari ada jadwal untuk menemuimu
disalah satu tempat yang kita sepakati. Sembari bersiap-siap aku mengecek
handphoneku dan benar pesan itu dari kamu, kamu membatalkan jam yang kita
sepekati sehingga mundur satu jam. Aku pun mengiyakan hal itu untungnya waktuku
masih kosong.
Jam sudah menunjukkan
pukul 4 sore, aku bergegas ke tempat yang kita sepakati yaitu Planet coffee
salah satu café yang sering kita kunjungi. Sampai diparkiran motor mataku
langsung melihat kedalam café berharap kamu sudah datang dan ternyata tidak aku
lagi yang duluan datang.
15 menit kemudian kamu
datang dengan pakaian rapi, dan wangi parfummu yang selalu menyapa hidungku
dengan lembut. Kamu duduk dan menyapaku dengan senyummu yang indah. Aku pun
membalas senyummu dan menyindirmu akan keterlambatanmu, dan alasannya kamu ada
rapat jadi terlambat sedikit dan lagi aku memaklumi semua itu.
Pelayan pun datang
untuk memberikan kami daftar menu, dan lagi saya memesan cappuccino float dan kamu
memesan green tea dan nasi goreng tampaknya kamu lapar karena seharian rapat dan
kamu mengiyakan pernyataanku. Sembari menunggu pesan kami pun
berbincang-bincang, aku memulai perbincangan dengan menanyakan kabarnya, dan Alhamdulillah
dia baik-baik. Aku menanyakan kembali soal perihal kuliahnya katanya banyak
tugas dan lelah karena harus membagi waktunya sehingga ku menyarankan untuk
memperbaiki management waktunya agar dia tidak jatuh sakit lagi. Perbincangan
semakin seru dan seorang perempuan menyambangi meja kami dan itu adalah pesan
kami, dengan lahap kamu menghabiskan makananmu karena katanya kamu belum makan
dari pagi. Perbincangan kita terhenti.
Nada dering dari
handphonemu berbunyi dan kamu meminta izin untuk mengeceknya karena sebelumnya
kita tlah sepakat bahwa Handphone harus ada ditas. Sepertinya itu dari orang
pentingmu dengan senyummu yang manis kamu membalas pesannya. Aku hanya mampu
memandangim dengan diam berharap kamu bisa mengakhiri chatmu dengan orang itu
ya egois memang aku egois bukannya kita tlah membuat kesepakatan dan dengan
mudahnya kamu melanggar semua itu, rasa kecewa mulai bergelut dalam hatiku, dan
semakin lama kamu semakin melunjak. Aku pun memberanikan diri untuk menegurmu “
mau balas semua chatmu? Kalau iya mending saya pulang” dengan wajah terkejut
kamu pun meletakkan handphone di meja dan melemparkan wajah tersenyum dan maaf kepadaku.
Percakapan mulai
berjalan kembali, kita menceritakan hal yang baru, tawa canda kita kembali
terbangun rasa kecewaku mulai memudar, kita tertawa tanpa menghiraukan orang
disekitar kita. Sejam tlah berlalu handphonemu kembali bordering dan it telpon
dari temanmu dan alhasil kamu akan pergi karena tiba-tiba seseorang membutuhkan
dirimu. Aku pun membiarkan kamu pergi walaupun itu jauh dari harapanku bahwa
kita akan menghabiskan waktu senja ini dengan bernostalgia mengingat kembali
waktu kita masih SMA tapi sudahlah harapan semu itu hanya tinggal harapan
karena dihadapanku yang ada hanya kursi kosongnya yang sebelumnya ada kamu.
Kurogoh laptop ditasku
sebagai pelarian dari rasa sepi ini. Beberapa dokumen ku buka dan aku tertarik
membaca satu folder “Karyaku” sepertinya lama tak membuka file ini, ku pasang
hadset ditelingaku dan ku putar lagu. Satu persatu file itu ku baca, dan aku
tertarik pada satu judul “janji sepasang merpati” tulisan yang satu ini
diangkat dari kisah nyataku, ku tersenyum membaca cerita itu, memang indah
waktu dlu saat kita masih dekat. Hmmmm walaupun sekarang janji itu mulai
memudar karena kesibukkan. Dan tidak bisa ku pungkri aku merindukan sosokmu
yang dulu, sosok yang ku pertahankan untuk selalu baik dimata orang, sosok yang
selalu ku banggakan dan sosok yang selalu memberikanku arti hidup ya itu kamu
yang pergi tadi. Katanya janji merpati itu abadi, tapi sepertinya hanya aku
yang salah mengartikan perihal itu. Waktu itu aku terlalu bahagia bisa dekat
dengan kamu sampai aku lupa di belakangku ada orang yang menunggu uluran
tangaku juga.
Semakin hari kamu
semakin jauh, lelah rasanya jika aku harus mengejarmu. Bahkan jika aku harus
mengejarmu beberapa orang tlah ada didekatmu dan kamu semakin tak terlihat
lagi, bahkan hadirku pun tak kamu rasakan lagi. Aku sadar warnaku sudah mulai
memudar, kamu memerlukan warna baru dan warna yang berbeda. Rasanya berat jika
harus kembali dihadapkan dengan perubahan ini, namun aku sadar kali ini aku
harus redahkan egoisku utk selalu mengetahui kabarmu untuk selalu ingin tahu
kegiatanmu, karena memang kamu tak ingin tahu lagi kabarku seperti dulu. Dan lagi
pula aku memang sudah tak layak ada disampingmu karena aku sadar hanya masalah dan
tangisan yang selalu aku berikan, mungkin tugasku sudah selesai yang dimana aku
ingin kamu menjadi orang kuat sehingga kamu bisa menjadi panutan untuk orang
lain, dan itu benar harapanku sudah terwujud. Aku yakin mereka mampu menjadi
aku bahkan jauh lebih dari itu. Semalam tlah aku pikirkan bahwa aku akan
membiarkan perubahanmu ini dan tidak akan mempermasalahkannya lagi karena aku
tidak akan lagi kamu mendapatkan beban karena hal ini. Bukan hanya kali ini
saja tapi perubahan ini sudah berulang dan kali ini aku berhenti untuk
memperbaikinya dengan alasan yang itu tadi kamu semakin jauh dan semakin
berkilau sudah tak pantas jika aku ada disampingmu, merekalah yang pantas
sekarang. Aku pamit bukan berarti aku
kalah dengan mereka tapi aku yakin merekalah yang mampu membuatmu jauh lebih
bahagia. Dari jauh aku hanya mampu mendoakanmu dalam sujudku. Karena aku yakin
setiap yang pergi tuhan akan menggantikannya dengan hal yang baru, dan aku
menunggu orang itu walaupun aku tahu dia tak akan pernah sama dengan kamu tapi
setidaknya dia mampu melengkapi warnaku sembari dia membantuku untuk mengikhlaskanmu.
Agen Judi Bola
BalasHapusAgen Judi Online
Agen Judi
Agen Bola
Agen Sbobet
Agen Bola Ibcbet
Agen Casino Online
Agen Terpercaya
Agen Judi Terpercaya
Agen Judi Terbaik