takdir pun berpihak padanya
Aroma
tanah yang basah terhirup kembali, dentik hujan kembali terdengar di telinga,
dan suara gemuruh kembali bermain diatas sana. Cuaca berubah menjadi gelap,
gelap seperti hidupku tanpa mengenal cinta, cinta yang sebelumnya adalah cinta
yang hanya aku yang memiliki rasa ketulusan tanpa harus kau tahu arti cintaku
ini setelah rasa cinta ini menjadi kekuatan tiba- tiba kamu pergi sebagai
temanku dan memilih dia sebagai bidadarimu, seperti hujanlah aku, aku terpuruk
dan kekuatanku telah hilang, kegelapan menyelimutiku, semangatku mulai luntur
dan trauma itu ada, ya trauma untuk memulai dengan cinta yang baru, memiliki
cinta kepada adam adalah anugerah terindahku namun memiliki cinta diam-diam
adalah pilihan hidupku, cinta yang begitu tulus namun dikotori dengan sebuah
kepergian dan memilih cinta yang lain yang kau katakan itu cinta tulusmu. Aku pun
memutuskan menjadi sendiri yaa sendiri mengarungi hidup, sendiri membangun
kembali semangat dan berusaha berdiri sendiri tanpa bayanganmu yang entah
dimana sekarang.
2
tahun kemudian aku memilih untuk liburan ke kota antic itu yaa kota mengajarkan
aku arti kesederhanaan, dengan kostumku yang seperti biasanya sepatu kets,
celana pendek dan kaos oblong dengan tas ranselku ku menaklukkan kota tersebut
dengan keberanian. Ku berjalan mencari penginapan ya aku menemukan penginapan
yang sesuai dengan keinginanku yaitu aku memutuskan untuk membangun tenda di
pinggir pantai, waktu pun berlalu begitu cepat perutku mulai keroncongan ku
beranjak dari tempatku untuk mencari makanan yaa suasana malam kali ini sangat
berbeda, udara malam terasa sejuk terhirup di hidungku, kota yang indah dan
tentram, di ujung jalan ini ku melihat gerobak makanan dan aku ingin mencoba
makanan tersebut yaa gudeg aku memilih makanan itu untuk makan malamku “aku : pak
pesan satu yaa tidak pedas, si bapak: makanan disini neng?, aku : tidak pak,
dibungkus saja, si bapak : oke neng sabar yaa” ku duduk menunggu pesanan
makananku sembari menunggu makananku terdengar suara motor jatuh akupun bergegas
menghampiri juara tersebut yaa benar seseorang telah jatuh dari motornya dan
menabrak trotoar jalan, dengan bermodalkan keahlian yang aku dapat
diperkuliahan aku menolong dia,memindahkannya ke tempat yang aman dan ada luka
pada kaki kirinya dan tangannya, ku lakukan penekanan pada daerah lukanya untuk
mengurangi perdarahan, aku melhat botol
air minum masih terselip di tas ranselnya dan aku memberikannya minum agar si
dianya lebih tenang lagi.
“aku : kamu tidak apa-apa?, si dia:
kaki dan tanganku perih, makasih ya sudah menolongku, aku : iya sama-sama, bisakah saya mengantarmu
ke rumah sakit, karena lukamu harus di bersihkan dan dibalut? Si dia: (diam). Aku : ya udah kalau
begitu aku balik ya, telpon temanmu untuk antar kamu ke rumahmu.(aku berdiri). Si
dia: tunggu, bisakah kamu saja yang mengantarku pulang kerumah?. Aku : khmmmm,
oke baiklah.”
Ohya
tunggu sebentar yaa aku kesana dulu, aku ke tempat penjual makanan yang tadi
aku pesan, dan membatalkan makanan yang ku pesan tapi tetap membayarnya. Setelah
itu aku membantu dia untuk bangun dan dia mengulurkan tangannya sambil
mengucapkan namanya, “aku iskan,kamu?, dan akupun mengulurkan tanganku “panggil
saja aku aiz”, ayo kita pergi ohya tolong tuntun aku soal alamatmu karena aku
belum tahu jalan dikota ini, iskan pun menjawab iya nanti aku tuntun.
20
menit kemudian aku sampai didepan rumahnya yaa rumah mewah bercatkan putih dan
terdapat 4 buah mobil terparkir di garasinya, akupun membantunya untuk turun ke
motor matic itu. “aku : Alhamdulillah sudah sampai juga, oke aku balik ya. Iskan
: tunggu aku tidak bisa berjalan sendiri bisa membantu saya sampai kedalam
rumah, please?, aku: oke baiklah, taruh tanganmu diatas pundakku, iskan: (sambil menaruh tangannya) sorry ya, aku: ayo pelan-pelan”
Iskan
pun berteriak memanggil satpam, si satpam pun keluar dan membuka pagar
rumahnya, aku pun memasuki rumahnya iskan, rumah yang sangat megah dan
perabotan yang ada diruangan tamu semuanya dari keramik. “iskan : tolong bawa
saya ke kursi itu saja”, dari belakang terdengar suara dari ibunya iskan, “
kamu kenapa iskan?, iskan : tadi saya jatuh bunda dan aizlah yang menolong
saya, ibunya iskan : astaga, kamu sih kenapa naik motor keluar ka nada mobilmu
di garasi akhirnya beginilah, iskan: udalah bunda, ohya aiz makasih ya atas
bantuan. Aku: iyya sama-sama aku balik ya, iskan: tunggu, mang ali,mang ali
mang ali tolong kesini. Sesosok bapak tua datang, mang ali : iya den, kenapa?,
iskan : tolong antar teman saya sampai dirumahnya, aku : aduh tidak usah aku
pulang sendiri, iskan : tidak kamu harus diantar sama mang ali ini sudah malam,
please ya, aku : baiklah, permisi ibu. Ibunya iskan : (tersenyum)
Aku
pergi dari tempat tersebut, dan ditengah perjalanan aku menghentikan mang ali
yang mengendarai mobil, stop pak aku turun saja disini, mang ali: lah kok
disini mbak. Aku : aku bangun tenda di pinggir pantai itu mang jadi aku turun
disini saja. Mang ali : mang antar sampai di tendanya mbak ya?, aku : tidak
usah mang sampai disini saja terima kasih!!
Pukul
23:25 WIB Ku kembali ke tenda, udara malam semakin menusuk kulitku, aku pun
mengambil jaketku didalam ransel dan mengambil snek untuk menganjal perutku,
aku pun memetik gitar dan ku nyanyikan lagunya marshal melawan sepi.
Pukul
03: 25 Wib aku memutuskan untuk pergi tidur, dan berharap besok akan lebih baik
dari hari ini, pagi pun telah datang aku bangun dan mencuci muka dengan air
laut. Tendaku rebahkan dan memasukkanya kembali k etas ranselku, aku memulai
berjalan di tengah jalan aku membeli jajanan sebagai modalku untuk berjalan,
kamera yang di leherku aku manfaatkan untuk memotret indahnya kota ini, lama
kelamaan dari belakang memukul pundakku “aiz”
aku pun kaget dan berbalik badan, “iskan,
kok kamu ada disini?, iskan : iyya
aku disini karena mencarimu, aku:
mencari aku? Kenapa?, iskan : iyaa
aku mau traktir kamu karena membantu saya semalam. Aku : kamukan belum pulih betul , ah lain kali saja, iskan : aku maunya sekarang, ayo ( sambil
memegang tanganku). Dengan terpaksa aku mengiyakan ajakannya iskan , ya
berteman dengan orang baru adalah yang terbaik kali ini, iskan menemaniku
berjalan selama satu minggu di kota itu, kami bercanda layaknya teman yang
sudah 1 tahun kenal, dalam satu minggu itu kami banyak bercerita mengenai
hidup. kenyamanan pun terjalin, rasa suka pun kembali hadir, aku yang pernah
terluka kembali mengenal cinta, hati ini kembali temukan senyuman yang hilang
semua itu karena iskan, tuhan ku cinta dia, ku saying dia, inginkan dia, dan
utuhkanlah rasa cinta di hatiku hanya kepada iskan dan untuk iskan, walaupun
aku tahu ini terlalu cepat, hampir setiap hari aku jatuh cinta kepada iskan,
dan iskan juga memberikan perlakuan yang berbeda dari sebelumnya.
Namun
disuatu malam, aku menanyakan kabarnya iskan namun whatsapku tak dibalas, hanya
diread saja, aku terus menghubunginya tapi hanya di read saja, keesokan harinya
aku mengujungi tempat yang biasa kami kunjungi sampai malam aku menunggunya
tapi dia tak kunjung datang, aku pun beranjak dari tempat itu dan memutuskan
untuk balik ke Makassar saja, di tengah jalan aku ketemu mang ali, “aku : mang ali?, mang ali : mbak aiz ya, aku : mang, iskan kemana ya 2 hari ini aku menghubunginya tapi hanya di read
saja, mang ali : (tertunduk dan
menangis), aku : mang, iskan kenapa
dan dia ada dimana sekarang?, mang bicara mang. Mang ali : dia di rumah sakit sekarang ayo ikutlah
dengan mang, Aku : (dengan
terburu-buru aku naik kemotor mang ali).
Pukul
20:25 WIB, aku da mang ali sampai di rumah sakit, sebuah kamar yang hanya ada
iskan didalamnya, aku melihat kedalam sesosok adam yang kucintai terbaring
lemah dengan terpasang alat medis lainnya, aku pun kaget dan menanyakan ke mang
ali, ternyata iskan mengalami perdarahan di otaknya akibat kecelakaan waktu itu,
aku pun terkejut dan tak kuasa menahan cobaan ini, 2 orang wanita dari jauh
berjalan ya itu ibunya iskan dan temannya iskan, dia datang dengan terburu-buru
dan menangis dihadapan iskan, si cewek itu menangis sangat kencang dan meminta
iskan untuk bangun, aku pun bertanya kepada mang ali, “aku : mang ali, siapa itu?, mang ali : dia. Di…aaa, aku : khmmm mang ali dia itu siapa? , mang ali : diaa.aaaa itu calon tunangannya aden iskan, aku : (ku helai nafas panjangku) jadi iskan sudah
punya calon tunangan, sudah berapa lama mang?, mang ali: sudah 1 bulan ini, aku: ok baiklah mang, aku balik ya, mag ali :
mbak, jangan pergi, aden iskan
membutuhkan semangatnya mbak, dia sayang sama mbak. Aku : (dengan tersenyum) tidak mang, aku bukan
siapa-siapa, dan iskan lebih butuhkan dia, aku pamit mang tolong sampaikan
ucapan terima kasihku ke iskan karena telah baik selama ini kepada aiz,
mang ali : iya mbak.
Aku
meninggalkan tempat itu dan meninggalkan semua tentang iskan, cinta untuk kedua
kalinya yang tak dapat ku miliki, aku sangat mencintainya namun perempuan
itulah yang berhak atas iskan dan bukan aiz, aku kembali rapuh dan kembali
jatuh lagi. Jatuh kembali bukan pilihan yang mudah tapi itu bagian dari
takdirku, semoga iskan cepat smebuh dan kembali tersenyum seperti dahulu.
Aku
pamit dari kota ini dan kembali ke kota kelahiranku.
#bersambung
Komentar
Posting Komentar