cerita sore ini tentang kita (dulu)
Minggu
29 november, suara gemuruh dari jauh terdengar dengan jelas, aku terbangun dan
melihat keluar “yaa awan hitam mulai
menguasai langit”, dentik hujan satu persatu mulai turun membasahi tanah
yang gersang dan rumput yang mulai layu, angin pun mulai terasa kesejukan
tercipta di sore itu, namun suara gemuruh itu masih tetap terdengar bahkan
semakin dekat. Dan sembari menikmati suara gemuruh tersebut suara deras dari
kejauhan terdengar jelas, hujan pun turun, ribuan tanaman menari ria menyambut
kedatangannya, dari kejauhan mereka yang berdiri dijalan mulai berlarian
mencari tempat bernaung, angin pun semakin berulah dengan indah pohon-pohonmu
disekitarnya seakan ikut bermain dengan angin, sore itu sangat indah.
Aku
mengambil gelas yang tersimpan diatas meja, gelas putih dan sendok apalagi
kalau bukan membuat kopi hangat, dengan kopilah suasana indah ini akan terasa
menarik, ku putar lagu aku tertarik dengan satu lagu yang liriknya ”ingin menjauh darimu meski sulit, ingin
melepaskanmu walau mungkin tak mungkin” entah apa yang membuatku tertarik
untuk mendengar lagu itu, ku buka pintu rumah dan aku memberanikan keluar duduk
di teras rumah menikmati segelas kopi hangat dan satu lagu itu, walaupun suara
gemuruh masih terdengar dengan jelas.
Ku
teguk kopi hangat digelasku, memori 10 tahun yang lalu muncul dipikiranku, “apa yang terjadi, mengapa kejadian itu
muncul” kita telah berjanji untuk membuat perubahan itu, hanya ego dan
kepentingan salah satu dari kita, kita telah berjanji akan bersama, kita telah
berjanji untuk saling menjadi dewasa, kita telah berjanji untuk mengukir
kenangan terindah kita dalam lembar kertas putih, dan itu adalah janji kita,
janji 10 tahun yang lalu, janji yang kita ucapkan dikala hujan turun seperti
waktu ini. Bukan hal yang mudah untuk menulis cerita kita di atas kertas putih
derai air mata dan kegundahan bahkan amarah adalah masalah yang harus aku lawan
ketika mengumpulkan huruf demi huruf sehingga terangkai menjadi beberapa
kalimat.
Penyesalan,
kemarahan, kesedihan mulai bergejolak dalam hati dan pikiranku ini lebih aku
takutkan daripada suara gemuruh itu yang semakin lama semakin bertambah. Langit
mulai menampakkan keindahannya, “ahhh
sudahlah, kisah 10 tahun yang lalu adalah kisah terburuk dan takkan pernah akan
aku ingat kembali, dimana kita berkenalan, bagaimana kita menjadi akrab, dan
keberanian kita untuk berjanji satu sama lain, semua hanyalah kisah yang aku
sesali” pernyataan itu muncul bukan karena amarah melainkan bentuk
penyesalan karena telah mengenalmu, aku yang dulunya peduli kepadamu namun
karena beberapa alasanmu yang tidak logis membuatku seperti ini, perubahan
diantara kita sekarang menjadi penting dan keegoisan diantara kita mulai
memuncak, dan rasa peduli seperti dulu tidak terpikir lagi diantara kita,
pernah aku merindukan chatmu dimalam itu, aku merindukan chat-chat kita 10
tahun yang lalu bahkan sampai tengah malam, dan malam itu aku merindukannya aku
tidak bohong. Banyak orang diluar sana iri bahkan jeles melihat keakraban kita,
bukan soal ingin mengumbar-umbar tapi itu asli tercipta pada saat itu, aku
ingat dikala hujan itu kita bercerita sambil tertawa puas di hari itu kita
saling sindir-menyindir, dan pernah juga kita dalam perjalanan dalam pesawat
kita berbincang mengenai mereka karena hujannya terlalu deras kamupun tertidur
di bahuku, tidurmu terlalu nyenyak aku tak berani untuk membangunkanmu dari
tidurku, ya meskipun bahuku sakit tapi akan lebih sakit lagi kalau aku
membangunkanmu dari tidur indahmu tapi mungkin kamu sudah tidak mengingatnya
lagi.
Suara
gemuruh telah berakhir dan pergi jauh, hujan mulai redah, namun awan hitam
masih ada. Ku tegukkan kopiku yang tadinya hangat kini menjadi dingin, mungkin
terlalu asyik menulis kisah 10 tahun ini kali ya (hehehe). Dinda… dinda… dinda…
suara perempuan terdengar, aku beranjak dari kursi dan meja itu dan masuk
kedalam rumah meninggalkan gelas putih itu diluar, aku berharap besok masih ada
cerita sperti ini di sore hari.
Like kakak. terjiwai sekali
BalasHapus