tersentak
Malam telah datang,
bintang mulai bermunculan untuk bercengkrama dengan bulan. Keindahan malam ini
sangat memanjakan mataku, ku duduk di teras rumah memandangi malam dan bintang,
berusaha menghibur diri dengan kehadirannya dimataku, disaat mereka menghiburku
dengan atraksi bintang jatuh dengan speechles ku memejamkan mata dan berdoa “tuhan
satukan mereka seperti sedia kala karena aku hanya seseorang yang hadir disela
sela kehidupannya, aamiinn” ku membuka mata, berharap pikiran kembali normal
seperti sebelumya namun kenyataannya tidak sistem sarafku menstimulus memoriku
untuk mengingat kembali peristiwa semalam, aku hadir dan berdiri di tempat yang
salah menyayangi dua sosok manusia secara bersamaan, salah dan kasihan itu
respon orang didekatku disaat aku bercerita dengannya. Benar sekali aku salah
dan apa salah aku mencari seseorang yang bisa ku utamakan??? Meskipun ku tahu
disaat memutuskan itu aku harus melepaskan genggaman orang lain. Ku mencoba
menarik nafas dalam, agar tidak nyesek lagi, memikirkan hal ini sudah ribuan ar
mata dan energi hilang karena masalah ini, ku mencoba mendiami masalah ini,
awalnya sih iyaa membiarkan mengalir seiring bergantinya waktu namun
kenyataannya tidak, banyak yang datang kepadaku dan memohon untuk tidak
membuatnya menangis dan banyak yang meminta untuk tidak melepaskan tangannya
dengan beberapa alasan. Aku bisa apa, aku hanya sesosok manusia bukan malaikat
yang akan menjadi istimewa dan akan selalu baik dihadapanmu , aku juga bisa
marah, bisa sedih dan bisa membuat orang lain kecewa kepadaku. Aku belum cukup
dewasa dalam menyikapi masalah ini dan lagi ku takut salah memilih, aku tidak
mau kejadian itu terulang memilih orang lain dan menyia yiakan orang itu dan
pilihanku salah yang ku pilih malah setengah baik dan yang ku sia siakan jauh
lebih baik, mau diapa lagi pilihan telah
aku putuskan.
Mereka berdua memiliki
sifat yang berbeda, namun kasih sayangnya tetap nomor satu untuk aku, aku
terlalu larut dalam pencarian ini sampai akhirnya aku bebablasan dalam hal ini,
terlalu banyak orang yang ku bukakan pintu untuk masuk ke kehidupanku sampai sampai
aku lupa bahwa dalam hal ini aku hanya membutuhkan satu orang, dan ku beranikan
diri kemrin malam ku putuskan memilih dia dan tanpa sepengetahuan siapapun
hanya kami berdua yang tahu, yaa kami bahagia dong, namun di sela sela
kebahagiaanku seseorang datang kepadamu dan memberikanku saran, kamu sudah
memilih dia??? Aku menjawab iya aku senang sekali,orang itu kembali
memleparkanku perntanyaa lantas yang satu gimana emang sudah siap melepasnya?? Apakah
yang satunya akan ikhlas menerimanya??? Kasihan dia harus kau lepaskan, dia
terlalu rapuh. Pertanyaan ini seakan menghentikan aliran darahku masuk ke
jantung, aku hanya bisa diam dan menundukkan kepala. Orang itu memegang
pundakku dan berkata a”aku tahu sangat susah dalam masalah ini, aku tahu kamu
cukup dewasa dalam hal ini, namun ada baiknya kamu duduk bertiga dan
membicarkan ini, karena kalau aku jadi dia (yang dilepaskann) aku akan marah
dan benci sama kalian berdua karena secara diam diam kalian mengkhianatiku,
mereka mempunyai karakter yang berbedakan??’ iya,, mereka memiliki karakter
yang berbeda. Mungkin jalan satunya aku harus ketemu dan bicara dengan mereka
mengunjungi mereka, tidak mengapa aku harus dibenci asalkan mereka tidak saling
membenci karena aku hanya orang asing yang hadir di sela sela kehidupan mereka.
Nia.. nia.. nia.. yaa
ibu. Aku disini, kenapa kamu ada diluar masuk gi nanti masuk angin. Iyaa ibuu aku
baru mau masuk ini. Aku pun berdiri dan bersiap untuk masuk kerumah suara
malaikat ku telah ku dengar dan menyuruhku untuk masuk, namun sebelum itu ku
pandangi bintang sambil berkata terima kasih bintang itu kisahku kemarin malam,
tolong pertimbangkan kisahku yang ini tolong berikan aku jalan keluar dalam hal
ini, kamu lah sahabatku bintang sampaikan salamku kepada bulan dan sang malam. Assalamu
alaikum. Ku langkahkan kakiku untuk pergi meninggalkan teras rumahku.
Komentar
Posting Komentar