Duduk di sebuah kedai kopi, pasang headset putar lagu, dan pesan
Secangkir kopi hangat. Tak lama hujan pun turun, aroma tanah
Mulai tercium, ku melihat keluar di pintu semua orang
Bergegas untuk terhindar dari hujan, semakin lama genangan
Air mulai menghiasi jalan percikan air mulai terlihat di kejauhan
Cukup bahagia melihat peristiwa itu, namun di sela sela itu
Sebuah pemikiran muncul apa yang terjadi diantara mereka
Mengapa mereka begitu antusias dan berlomba lomba untuk
Jadi pemenang??? Iyaa sih saya butuh pemenang dalam perlombaan
Ini, seorang pemenang yang tidak membrikan janji melainkan
Bukti dan keikhlasannya. Di balik itu juga pertanyaan lainnya muncul
Apakah ada pemenangnya? Bisa saja mereka mundur dan meninggalkan semua ini dan pergi menjauh???
Dengan alasan bahwa dia yang lebih baik???
Ahhh sudahlah pemikiran yang aneh bisa saja saya terlalu
Berlebihan dalam hal ini, bisa saja saya yang terlalu kegeeran
Menjadi orang penting dalam hidup mereka? Bisa jadi ini hanya sebuah
Omong kosong nya yang lambat laun akan memudar seiring
Berjalannya waktu, bukannya setiap yang datang pasti akan
Pergi??? Kalimat yang menjadi penyemangat dikala lagi mempriorotaskan seseorang dalam hidup dengan alasan agar tdk
Terlalu berharap ke dia untuk tetap berada dan duduk disampingku.
Cukup trauma dengan kalimat "memprioritaskan seseorang dan dia sahabatku'' terlalu bodoh diriku disaat saya menganut kalimat itu
Korban perasaan dan ruang gerak. Tapi dari semua itu saya mendapat hadiah darinya sebuah bingkisan indah yang bertuliskan mungkin saatnya saya berpikir untuk bersikap dewasa dan bijak memilih orang dalam kisah selanjutnya, bukan memilih tapi kembali ke prinsip yang saya buat. Kembali ke awal siapapun yang menjadi pemenangnya semoga bertahan dan tetap duduk disampingku menemani diriku dan mendengar kisahku dan dia menganggap saya nomor satu diantara ribuan orang yang dekat darinya mungkin cukup egois dengan yang satu itu namun itu penting bagi saya, saya sudah capek menjadi orang yang di butuhkan dikala orang lain butuh nasehat namun mereka tidak ada dikala saya butuh didengar dan saya sudah capek menjadi orang baik seperti yang dia dia dan dia lihat. Bertopeng mungkin dulu tapi sekarang tidak, dengan lantang saya mengatakan inilah sifatku kalian nyaman dengan karakterku maka peganglah tanganku dan saya juga akan memengang tanganku dan kita sama sama berjalan kedepan saya akan memberikan kejutan kepadamu selama perjalanan yang orang lain g akan tau mungkin ketika mereka tau bisa jadi orang lain akan berlomba dan memakai topeng untuk menggengam tanganku namun itu takkan ku beritahu cukup saya dan tuhan yang tahu.
Ku mencoba melihat keluar lagi dan malam pun mulai datang bersama angin malam, wahh mungkin saatnya beranjak dari kedai kopi ini dan kembali ke tempat yang memang menjadi tempatku untuk membaringkan tubuh ini agar besok ada hasil yang ku jumpai.
Secangkir kopi hangat. Tak lama hujan pun turun, aroma tanah
Mulai tercium, ku melihat keluar di pintu semua orang
Bergegas untuk terhindar dari hujan, semakin lama genangan
Air mulai menghiasi jalan percikan air mulai terlihat di kejauhan
Cukup bahagia melihat peristiwa itu, namun di sela sela itu
Sebuah pemikiran muncul apa yang terjadi diantara mereka
Mengapa mereka begitu antusias dan berlomba lomba untuk
Jadi pemenang??? Iyaa sih saya butuh pemenang dalam perlombaan
Ini, seorang pemenang yang tidak membrikan janji melainkan
Bukti dan keikhlasannya. Di balik itu juga pertanyaan lainnya muncul
Apakah ada pemenangnya? Bisa saja mereka mundur dan meninggalkan semua ini dan pergi menjauh???
Dengan alasan bahwa dia yang lebih baik???
Ahhh sudahlah pemikiran yang aneh bisa saja saya terlalu
Berlebihan dalam hal ini, bisa saja saya yang terlalu kegeeran
Menjadi orang penting dalam hidup mereka? Bisa jadi ini hanya sebuah
Omong kosong nya yang lambat laun akan memudar seiring
Berjalannya waktu, bukannya setiap yang datang pasti akan
Pergi??? Kalimat yang menjadi penyemangat dikala lagi mempriorotaskan seseorang dalam hidup dengan alasan agar tdk
Terlalu berharap ke dia untuk tetap berada dan duduk disampingku.
Cukup trauma dengan kalimat "memprioritaskan seseorang dan dia sahabatku'' terlalu bodoh diriku disaat saya menganut kalimat itu
Korban perasaan dan ruang gerak. Tapi dari semua itu saya mendapat hadiah darinya sebuah bingkisan indah yang bertuliskan mungkin saatnya saya berpikir untuk bersikap dewasa dan bijak memilih orang dalam kisah selanjutnya, bukan memilih tapi kembali ke prinsip yang saya buat. Kembali ke awal siapapun yang menjadi pemenangnya semoga bertahan dan tetap duduk disampingku menemani diriku dan mendengar kisahku dan dia menganggap saya nomor satu diantara ribuan orang yang dekat darinya mungkin cukup egois dengan yang satu itu namun itu penting bagi saya, saya sudah capek menjadi orang yang di butuhkan dikala orang lain butuh nasehat namun mereka tidak ada dikala saya butuh didengar dan saya sudah capek menjadi orang baik seperti yang dia dia dan dia lihat. Bertopeng mungkin dulu tapi sekarang tidak, dengan lantang saya mengatakan inilah sifatku kalian nyaman dengan karakterku maka peganglah tanganku dan saya juga akan memengang tanganku dan kita sama sama berjalan kedepan saya akan memberikan kejutan kepadamu selama perjalanan yang orang lain g akan tau mungkin ketika mereka tau bisa jadi orang lain akan berlomba dan memakai topeng untuk menggengam tanganku namun itu takkan ku beritahu cukup saya dan tuhan yang tahu.
Ku mencoba melihat keluar lagi dan malam pun mulai datang bersama angin malam, wahh mungkin saatnya beranjak dari kedai kopi ini dan kembali ke tempat yang memang menjadi tempatku untuk membaringkan tubuh ini agar besok ada hasil yang ku jumpai.
Komentar
Posting Komentar