Di Sudut Pilihan



Orang 1(belajar dari jejak yang ditinggalkan untuk mengambil keputusan selanjutnya)

Bahwa jejak itu kutinggal dan berbekas
Di gelanggang pilihan
Tempat pertarungan mau dan nyata
Yang kucatat dan kutonton bak sebuah perhelatan
Yang tak menyapa pagi
Dan tak pamit pada petang
Lalu pulang untuk sebuah kepastian
Yang tak lagi untuk diputar untuk kepastian yang lain

Jejak bisu yang bicara pada isyarat permintaan
Jikalau hujan pada jelang sore
Maka biar kuperiksa jejak itu esoknya
Jika persis sama maka tak lantas ia terlupa
Akan jadi bayangan bijak yang terus bertuah
Akan kemana jejak berlanjut
Atau kueratkan ikatan-ikatan sebab
Yang merangkai kepastian hari ini

Orang 2(seperti orang menikah, bisa jadi ia berecerai di kemudian hari jika tak tak matang keputusannya)

Kalau jejak saja semua juga menyisakannya
Di lorong-lorong keputusan
Dan di pelaminan yang menentukan
Yang telah kunikahi dengan beberapa kemungkinan
Ditimbang di neraca dengan harapan sebagai pemberatnya
Di kenyataan ini jelas
Telah kususun rumah tangga
Kehendak sebuah keluarga
Untuk sekumpulan tujuan di depan

Pilihan dan keputusan
Adalah tentang sebuah pernikahan
Yang mutlak kujalani
Akulah mempelai yang didudukkan takdir
Hari ini biar kuselesaikan kewajiban itu
Tapi esok jika ada pilihan dan keputusan di depan
Boleh jadi aku menuntut
Biar kuakhiri dan kuceraikan

Orang 3 (memetik buah, entah ranum atau belum, segera mengambil keputusan mau diapakan buah itu)

Peliknya sebuah pernikahan
Jangan salah
Ceritaku juga menyematkan kepelikan
Di telinga setiap yang mendengar
Dan bahkan hanya tentang buah
Dan aku yang memetik kala itu
Sampai hari ini masih bertanya
Mau kuapakan selanjutnya buah itu

Kenyataan ini sangat sederhana
Karena hanya soal buah dan petikan
Aku tidak sekedar meributkan hal ini
Ada yang lebih rumit jauh ke dalam inti daging buah
Namun sudah terlanjur terpetik
Dan inilah buah yang akan kusimpan
Kumakan habis atau kutunggu matangnya
Yang pasti bahwa aku harus segera bertindak

Orang 4(memanah, bisa saja tepat atau meleset)

Aku seorang pemanah
Tak hanya memanah buah atau satwa liar
Aku pemanah sebuah pilihan
Busurku toh adalah segenap daya dan mampuku
Anak panahku adalah keputusan yang kuarahkan
Meleset atau tepat adalah kepastian
Yang melintas di jalur angin penentuan
Inipun terjadi pada pemanah lain

Ada beberapa sasaran
Yang kubidik dengan naluri
Dan ada sasaran yang kuidamkan
Akan tertancapi anak panah
Kubawa pulang sebagai kenangan
Yang akan kubenahi dengan keseriusan
Aku tak tak lantas katakan hari ini salah sasaran
Karena jikalaupun ternyata demikian
Biar kupikir dalam-dalam

Orang 5( seperti sedang berjudi, mau tidak mau harus menanggung hasilnya)

Kalau panah bisa jadi alat bantu judi
Biar kubawa serta sekarang
Aku bosan dengan perjudian yang sudah biasa
Karena jejakku adalah perjudian
Bahkan judi berlanjut setelah menikah
Tak ada uang maka buah petikanku jadi taruhan
Kuarahkan anak panah untuk keputusan judiku
Dan akulah penjudi abadi
Di perjudian pilihan

Aku telah berani berjudi di sini
Entah yang kumau yang dihasilkan judi atau bukan
Itulah perjudian dengan kejutannya
Setidaknya aku masih bisa teriak aku sang penjudi
Tapi jika memang hasilnya tak diharap
Biar besok aku kembali ke meja judi
Dengan taruhan baru
Aku menantang pilihan untuk judi selanjutnya


    ciptaan arif rahman, di populerkan salah satunya andi waiz alqurni

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berbeda tapi sama

Angka 21

Cinta suci